Monday, October 23, 2006

Mama don't you cry

Ibunda adalah seorang ibu yang bahagia mendapatkanku sebagai seorang anak yang lincah dan nakal. Aku memang punya "dua unyeng2" yang menurut orang jawa bilang; "anak yang nakal". Aku menetek pada ibu sampai aku masuk kelas 1 SD. Karena aku si bungsu yang manja. Ibunda selalu membawaku ke mana-mana. DI mata ibunda, aku seorang anak yang rapuh dan sakit-sakitan. Semenjak lahir aku sudah dimasukkan inkubator, bayi yang prematur dan mendapatkan transfusi darah dari seorang tukang becak di Bethesda! Tetapi aku adalah seorang malin kundang. Pergi ke suatu tempat yang asing, bertemu dengan banyak kawan-kawan, kesenangan demi kesenangan, jatuh cinta dan patah hati berkali-kali..... *** Taoi tiap kali aku bermimpi kembali, tetapi tak bisa kumengeri apakah ini mimpi buruk apakah mimpi biasa. Tetapi aku terbangun dengan tergeragap dan berkeringat. Seorang diri. Orang-orang di ruangan ini telah beranjak pergi saat aku benar-benar tertidur. Dalam mimpiku aku bertemu dengan ibukku, kawan-kawan lamaku dan hey... tempat yang aneh yang biasa kutemui dalam mimpi? Aku merindukanmu Ibunda....

Mbah Kakung

Ia tergolek lemah pada ranjang di kamar belakang. Sebuah kamar dengan dinding tembok kordin dan cahaya matahari menerobos dari satu genting kaca. Udara menghembuskan aroma yang aneh, seperti aroma yang telah mengendap berpulu-puluh tahun silam. Suaranya parau dan susah untuk ditangkap. Tetapi sorot matanya masih menyala dan sedikit berlinang air mata. Ia mengatakan sesatu dalam suaranya yang parau itu tentang cucu-cucunya dan ia tersenyum saat Gading, keponakanku meraih genggaman tangannya yang rapuh. Tangan itu terbalut kulit yang keras dan hitam. Sudah keriput. Seakan-akan tangan itu bergetar saat meraih tangan mungil yang lembut dan gembur. Kedua mata itupun bertemu.
"Ini mbah kakung!" kata ibunya.
Mbah kakung pun tersenyum, menampakkan mulutnya yang ompong, kembali manja sebagai seorang bocah.
***
Lalu tak ada yang pernah menduga dengan pasti seperti kematian biasanya, Mbah kakung meninggal pada hari lebaran ke-3 pada tahun 2004. Satu permintaan dari mbah kakung yang tak terpenuhi sampai saat menjelang ajalnya yakni bertemu dengan anaknya yang paling besar.
***
Kadangkala pada saat melintas di jalanan aku tersentak seperti melihat Mbah kakung melintas. Semasa hidupnya mbah kakung naik sepeda onthel kemana-mana. Bahkan pada saat usianya yang sepuh dan seminggu sebelum ia kematiannya pun ia masih mengayuh sepedanya.

Kini tiap kali lebaran dan tiap kali melihat seorang tua dengan sepeda dan mengenakan topi, saya teringat pada Mbah kakung.....

Saturday, October 21, 2006

interlude

Rumahmu adalah rumah senja. Rumah yang dikelilingi rerimbun pohon, secangkir kopi pada meja dan seekor kucing hitam dengan keempat kaki berwarna putih melingkar di pojok lobby. Rumahmu juga rumah yang sederhana yang selalu sepi dan jauh dari keramaian kota. tapi dari rumahmu kau bisa melihat hiruk pikuk kota di kejauhan dan puluhan pesawat yang tinggal landas, bergemuruh di sepanjang hari. Kau selalu bercerita tentang keinginanmu mengekalkan saat seperti itu. ketika aku, engkau, dua buah cangkir kopi, makanan-makanan kecil dalam toples, sepotong pembicaraan dan seekor kucing yang melingkar dipojok lobby dengan pelataran bernunsa senja. Lalu satu demi satu kita membokar pembicaraan kita masing-masing. membuka-buka kembali catatan-catatan buruk dan tingkah laku buta. Kita juga menyaksikan perang berkecamuk dimana-mana. beberapa orang baru yang kita kenal, banyak orang yang kita sudah tidak tahu lagi keberadaaanya. Kita tak pernah membicarakan tentang masa depan, karena masa depan adalah sesuatu yang menakutkan yang bisa menghilangkan saat sepeti ini.