Wednesday, April 11, 2007

Becak, Pauline, Gazi, Zajeck dan Conts

Pauline adalah teman dari perancis dan belum pernah sekaipun di yogya ia naik becak. Ia lebih memilih naik taksi, minta dijemput teman atau jalan kaki daripada naik becak. Saya ingat sekali komentarnya tentang becak.
Becak itu mahal karena pake tenaga manusia katanya.
Saya hanya diam dengan komentar itu karena dalam kepalaku ingat sesuatu bahwa orang perancis itu terkenal pelit.

Lalu Gazi dari bangladesh. Ia sering kuejek sebagai "king of bangla". caranya ngomong bahasa inggris mirip orang india, dengan logat indian england dan kepala yang nyaris bergerak-gerak dan ia waduh suka berdendang lagu-lagu bangla, atau mungkin inda? saya tak pernah tahu. Pada awal-awal kedatangannya ke Indonesia ia sering naik becak karena kepepet. jarak pusat kota dengan tempatnya studi di ISI membuatnya sering naik becak untuk sekedar dari aspal besar yang dilalui bus uar kota dan tempatnya tinggal di sebuah kampung. Tapi itu hanya sementara setelah ia menyadari jalan kaki pada route yang membelah kampung itu menyenangkan karenanya suatu ketika ia pernah berdebat dengan teman banglanya lainnya kalau jarak dari jalan raya menuju tempat tinggalnya hanya 15 menit jalan kaki! dan temannya cukup marah saat sudah berajalan 20 menit mereka blum kunjung sampai juga di tujuan.

Becak!, Zajeck dari polandia paling suka meniru suara dan tingkah tukang becak. Ia memang paling pintar meniru dan bagiku itulah password perkenalan pertamanya denganku. Meniru logat inggris Indoesiaku yang membuatku dipermalukan di tengah-tengah teman yang lain.
"Becak sir"
Mereka seperti pemilik jalanan, kata zajeck. Crazie driver yang tak hirau kalau becaknya punya badan yang cukup gemuk dan berjalan lambat di tengah tengah perempatan yang seakan-akan seperti buta warna lalu lintas merah kuning hija itu.Zajeck menggambarkan juga tukang becak dengan kacamatanya; seorang yang punya tubuh pendek, tidak begitu kurus tidak begitu gemuk, mengenakan topi, sebuah handuk kecil, suka mengantuk dan tidur melingkar di dalam becak sambil menunggu penumpang. Ia pernah cerita juga beberapa kali saat melewati deretan tukang becak itu, satu demi satu tukang becak itu menyembul keluar dari kolong tidrnya sambil mengangkat hanya sebagian kelapanya dan tulunjukknya dan berteriak "BECAK" dan mempertunjukkkan kedua matanya yang bulat seakan-akan mereka siap menservice anda dengan puas.
Kadangkala mereka juga berteriak "looking for batik sir, bakpia sir.... dll.