Friday, November 03, 2006

who's gona ride your wild horses

You dangeress... 'couse you honest...
You dangeress... 'couse you don't know what to do....
..whose gonna ride your wild horses....
Sha...laa...llaa...... (U2--)

Lewat ribuan pasang mata yang telah kulalui sepanjang petang yang rembang itu, juga seleretan lampu-lampu aku bergegas menemuimu. Telah kupegang ditangan sebuah alamat tanpa nama dan tanpa pengharapan akankah alamat itu menuju pada sesuatu yang pasti? Aku hanya terdiam meski dibelakangku ada Gazi laki-laki dari Bangladesh yang berkali-kali melontarkan bahan-bahan pembicaraan.
"I feel trembling.... I feel fear... 3 years never met..?"
Pada senja yang kian rembang itu berkali-kali malaikat kecil di lengan kanan menyentilku, membisikkan sesuatu tentang: tidakkah ini sama artinya dengan berjudi? spekulasi tiada henti? dengan kemenangan yang tak bisa kaupertahankan? juga dengan kenangan yang kelak retak?

Tapi aku cuek saja. Ribuan pasang mata itu kulalui satu persatu, juga seleretan cahaya dan lajur-lajur aspal yang sesekali terlihat tikus gepeng di sana, sudah mengering dan dengan perut yang membuncah. Kasihan tikus - tikus kota itu...

Lalu sampailah aku pada tikungan di depan masjid. Petang yang rembang telah beralih pada malam. Telah lepas waktu Isya' dan orang-orang pada masjid telah pulang dengan membawa doa masing-masing. Perasaan semakin kacau....

Heart od the heartless heart...
dear heart... the thought of you is the pain at my side
the shaddow that chills my view...

the wind rise in the evening
remembered me that the auntum is near...

Jiwa jiwa di dunia yang hilang jiwa
jiwa sayang, kenangan padamu...
adalah derita disisiku
bayangan yang bikin tinjauan beku

Angin datang menjelang senja
mengingatkan padaku musim gugur segera tiba... (chairil anwar)

Aku mengumpulkan segenap kekuatanku..., juga rasa penasaranku sebagai laki laki, menyalakan lagi mesin motorku dan membelok pada tikungan di belakang masjid......
Tapi aku tak menemukanmu di sana....

There's the light that never goes's out......

Thursday, November 02, 2006

nice dream

akhirnya aku merasa sangat mengantuk. Aku menatap layar yang masih berpendar di depanku , kadang-kadang menjadi kabur. Aku menikmati ruangan kotak persegi ini. kursi yang empuk, udara hangat yang berhembus dari propeler dan "Heart to heart"-nya Patti Austin. Aku teringat dua atau mungkin 3 tahun silam tentang seorang perempuan rapuh bernama Mbak Ning. Perempuan dengan tubuh kurus, ringkih dan ukuran kaki teramat kecil. Ia sering sakit-sakitan dan katanya lewat sorot matanya ia terbiasa melihat hantu di siang bolong. Bahkan Ia bisa menebak isi pikiran orang. mbak ning cucu seorang dalang. tetapi sedikitpun kini ia tak mengetahui perihal pedalangan karena ia tinggal di jakarta.