Wednesday, December 13, 2006

Bicycle Race

"My name is Constanze"... nama yang aneh, berkali-kali aku mengejanya dengan salah. Ia tertawa. Tawa yang renyah dan aku langsung bisa menyimpulkan dirinya orang yang hangat.
"Call me Candra.. more simple then yours!"

Suatu sore, kita naik sepeda sekedar untuk melihat pameran di Kedai kebun, lalu disambung ke Yogya Galeri lalu kalau tidak terlalu capai disambung ke Bentara Budaya. Kami sudah merencanakannya semenjak beberapa hari yang lalu.

Sebenarnya mungkin sudah dua tahun aku tidak naik sepeda lagi. Tetapi bila mempertimbangkan harga bensin yang naik dan motor 2 takku yang boros, aku mulai berfikir untuk naik sepeda ini.

Dua hari berselang aku menerima tantangan naik sepeda ini.
"We'll get fun with this old bicycle"
"Deal!" Spontan, tanpa kukontrol aku sudah mengatakan kata sepakat. Tak sempat berfikir dua kali mungkin saya sudah tidak kuat lagi mengayuh sepeda. Apalagi mengingat rute yang akan aku tempuh. Wuiiih, kalau dijalan nanti papasan dengan teman-teman...

Sepeda onthel tua yang kukendarai kukayuh dengan hati-hati. Sekujur tubuhnya sudah karatan. Terpaksa, aku mengganti rodanya, memberinya pelumas, dan sedikit mengelap biar kelihatan licin dengan gombal bekas. Karena saya sudah berjanji pada nona Constanze dari jerman itu. Pasti menarik pikirku!


Kami berangkat dari Perumahan Pelem Sewu. Di tempat itu memang ada banyak buah-buah mangga bergelantungan. Pernah kulontarkan pada nona Constanze tentang the story of thousand manggo itu... dengan ngawur..
"I think if you hungry you can steal one or more that marture mango"
"Good Idea, althougt the know, They will just let me go!"
Dan saya tahu, suatu ketika dia pernah menawarkan mangga dengan cekikikan dan sorot mata aneh.

Sampai pada jalan besar, aku sudah ngos-ngosan, berkeriSepeda onthel yang kukendarai berderat-derit. Kulihat nona Constanza masih dengan santainya mengayuh sepeda