Sunday, May 27, 2007

in memorian

Saya hanya kenal dengan istrinya, karena ia adalah teman seangkatan saya sewaktu kami masih sama-sama aktif kuliah. Istrinya adalah teman yang lumayan dekat dan ia pernah bercerita tentang pacarnya yang jauh dari kota SBY dan sesekali menjenguknya di kota Yog. Istrinya teman yang menyenangkan untuk berbicara, selalu antusias untuk berdebat soal apa saja dan saya tua ia orang yang setia. Saya hanya bertemu dengan laki-laki itu sekali saja, sewaktu temanku yang juga akan calon istrinya akhirnya diwisuda. Saya tidak begitu kaget sewaktu diberitahu kalau mereka akhirnya menikah. Kemudian mereka pindah ke kota SBY dan saya tidak pernah bertemu dengan mereka lagi kecuali kabar-kabar dari mailing list.
Tak berapa lama mereka dikaruniai anak kembar, teman saya menjadi ibu rumah tangga sekaligus dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, begitu juga suaminya. Aku mendapatkan kejutan lagi karena belum genap dua tahun, aku mendapat kabar lagi kalau mereka punya anak lagi, kali ini kembar juga. Aku jadi mereka-reka bagaimana perubahan temanku itu setelah menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus 4 orang anak.
Saat itu kalau saya membayangkan sebuah keluarga muda yang bahagia, saya membayangkan mereka.
Saya percaya akan takdir, apalagi saya tak punya ibu lagi semenjak SMP. Saya masih ingat bagaimana kami berjuang sekuat tenaga dengan mengerahkan moril dan materiil guna menyembuhkan sakit ibu. Bahkan aku sendiri pernah menjadi seorang yang sangat reigius ketika itu dan saya berdoa dengan optimis di sebuah segelas air putih dan lalu saya menyodorkan segelas air putih itu ke ibu. Saya merasa menyesal dan pernah berfikir lebih baik menjadi bajingan daripada seorang relgius. Akhirnya Ibu saya memang meninggal dengan tenang.
Saya mendapat kabar dari mailing list pertama kali sekitar sepekan lalu kalau akhirnya laki-laki suami teman sekelas saya, seorang suami yang baik yang dikarunia empat orang anak kembar dan seorang istri yang cantik dan pintar itu akhirnya meninggal karena sakit paru-paru. Jantung saya sedikit tersentak, merinding membayangkan wajah teman saya dan suaminya itu untuk terakhir kali. Seandainya saya mampu untuk berangkat ke kota SBY.
Saya membayangkan usia keduanya, teman saya kalau ngak salah masih sangat muda, 27 tahun, sedangkan suaminya tak lebih dari 30 tahun......