Friday, August 25, 2006

Friday I'm in love

I don't care in monday//
tuesday and wendesday I don't care too//
Friday I'm in love...

Ini adalah ceritaku yang kesekian puluh kalinya kau dengar tentang perempuan itu. Juga tentang sebuah lorong dengan dinding penuh tempelan poster bergambar binatang, angka-angka dan benda benda. Lorong yang berujung pada sebuah ruangan persegi di lantai tiga dengan udara dingin dari kotak AC, tumpukan-tumpukan arsip, komputer, dan tentu perempuan itu. Hari itu ia mengenakan T-shirt oranye bergambar kura-kura. Ia membiarkan rambutnya yang di cat kemerahan itu dibiarkan tergerai, agak sagghy.
Saat aku memasuki ruangan di lantai tiga ujung lorong tangga itu, Ia tengah membolak-balik sebuah buku catatan. Udara dingin langsung menghambur, dari AC. Ah, betapa panasnya udara di luar daripada di dalam ruangan itu. Bagiku, ia pura-pura masih sibuk dengan lembaran-lembaran arsip itu, menyapaku dengan kaku mempersilahkanku seperti biasa. Seperti biasa? ya, terlalu biasa, mungkin sudah lusinan kali kulakukan dalam ruangan persegi itu.

Sunday, August 20, 2006

Pulp fiction

I've tried so hard my dear to show
That you're my every dream
Yet you're afraid each thing I do
Is just some evil scheme

"Cold Cold Heart"-Norah Jones


Pada Timex seri Indigo di lengan kirinya menunjuk kode “TUE -- 10:21 -- 03:19:31“. Kode itu bukan apa-apa selain deretan angka yang membuatnya teringat ia telah melampaui semalam lagi. Dari hari senin berganti hari selasa. Tetapi apakah penanda perubahan hari selain perubahan cuaca dan gerak udara? Benarkah ada yang berubah? Ia yakin ia telah berada di ruangan itu sekian lama, mungkin lebih tua dari usia lumut-lumut di kastil-kastil kota Atlantis atau lebih purba dibanding batu prasasti kutukan raja Tarumanegara. Ia hafal betul setiap benda disitu, lekuk likunya, perpindahannya, nama-nama dan fungsinya. Ia hapal dimana ia meletakkannya seperti dihapalnya arah mata angin pada peta dan koordinat-koordinat sang nahkoda kapal; ia tahu ia menyelipkan seribu rupiah di bawah asbak, menaruh fotokopi terjemah “Zun Tzu The art of War “ di atas bufet, menyisakan gelas kopinya di dekat lampu gantung di bawah plafon, menuliskan nama seorang gadis “N” dengan pensil di tembok di bawah jendela, menempelkan stiker yang hampir mengelupas “Go Kill your Self” di depan CPU, menorehkan mayat seekor nyamuk yang ia tepuk di depan layar monitor, menyimpan surat-suratnya pada almari, mempunyai sebatang Dji Sam Soe di atas kotak loadspeaker, asbak dengan sisa abu rokok dan bau tembakau, poster-poster besar, kertas-kertas, buku-buku, lampu, mesin ketik tua, dan udara yang sepertinya masih menyimpan jejak nafas nenek moyangnya yang terperangkap dalam lubang ventilasi.

Hardi, teman karibnya telah pergi sekitar dua jam lalu. Curly hair, dark skin, sorot mata yang tajam bibir yang kering dengan bekas perokok yang kentara. Suara kepergian motornya seperti masih menggemuruh dalam liang telinganya bercampur dengan pekaknya malam. Tetapi ia seperti merasakan Hardi belum pergi, masih duduk-duduk, merokok, menegak coffemix, membuka-buka lembaran magazine, menggerutu, membolak-balik album foto dan kadang bercakap tentang sesuatu yang biasa seperti ;”Lex punya duit ora?”

“Tidak” jawab laki-laki kecil kurus tinggi—black t-shirt, mohawk hair, arloji timex digital di lengan kiri dan celana pendek potongan jeans belel, mata yang merah dan bibir yang kering.Laki-laki itu memang tengah tak menggembol duit sepeserpun. Ketika temannya, Hardi datang ia tengah tidur pulas, tengkurap di depan layar komputer yang menyala. Monitor menyala dengan wallpaper foto seorang kulit hitam di medan perang tengah berlari dan melompat dengan girang. Foto itu lumayan artistik—ia download dari situs Time magazine edisi foto-foto “war and civilization” .

Ia yakin, ketika ia tertidur di depan komputer itu ia belum mengetikkan sebuah kata pun pada program aplikasi ms-word yang masih menyala. Background ms-word itu sengaja ia set blue background white text, sedangkan loundspeaker masih mengalunkan MP3 “Norah Jones” dari title “come away with me” sampai “Cold-Cold Heart”, Nina Persson [Cardigans] dengan “Desafinado” dan “Ella fitzgerald” dengan full album A Classy Pair , berganti-ganti seperti sebuah kompilasi jazz yang tertib antara musim dingin, musim panas, musim gugur dan musim semi.

Lalu ia meluai meneliti, membolak-balik tiap lembar kertas memo, coretan-coretan, atau apa saja yang membuatnya bisa menemukan jawaban mengapa pagi itu ia belum mengetik sesuatu apapun pada keyboard dan screen komputer blue background white text tersebut. Ketika temannya Hardi datang, ia tak bisa lagi tertidur. Rasa kantuknya telah lenyap entah kemana. Memang Hardi membuatkannya kopi dan diteguk bersama-sama. One Drink one song, istilahnya, yang berarti satu cangkir minuman buat berdua.

Ia memang terbiasa begadang, tetapi malam ini adalah malam yang lain. Grafitasi di ruangan itu seperti raib. Di punggungnya kini tumbuh sepasang sayap yang membuatnya terasa ringan.bergerak dan berlahan-lahan tapi pasti ia melayang. Kedua sayap itu bergerak dengan sendirinya tanpa suara. Ia melambung tak menjejak lagi.

Ia belum menemukan jawabnya kecuali ketika ia sempat tertidur yang sekilas saja itu, sekitar sepuluh menit, ia bermimpi. Mimpinya masih berhubungan dengan apa yang ia alami sore itu dan apa yang ia alami lusa hari dan beberapa hari lampau seperti sebuah konstalasi. Benarkah nasib berhubungan dengan ia yang lain di dunia pararel? Barangkali ia yang lain di dunia yang lain pada waktu yang pararel itu juga tengah terjaga dalam posisi yang sama tetapi dengan nama berbeda, dengan kemungkinan nasib yang berbeda. Barangkali ia yang lain di dunia pararel itu juga punya kawan seperti Hardi tetapi namanya bukan Hardi. Tetapi pentingkah sebuah nama? Atau hanya penanda?
***
Hari ini saya tak bergerak keman-mana. Tinggal seperti biasa di dalam rumah dengan sebuah beban kepala yang pening. Tapi siapa sangka kepala yang pening itu justru membuahkan pikiran-pikiran brilian? Misalnya untuk bisa lepas darimu aku harus membunuhmu dengan sebuah rencana pembunuhan yang rapih dan teliti.

Aku bertemu muka dengan seorang perempuan dari Ubud. Bali. Orang ini agak aneh. Sopan sekali. Tetapi benarkah orang-orang bali itu sopan-sopan. Ia sekarang tengah tidur di dekatku sekarang. Ia sangat kelelahan setelah seharian ini ia keliling kemana-mana. Aku melihat pada dirinya. Wajah yang lelah itu. Siapa sangka aku seperti melihat ibuku? Ibuku telah mati. Beberapa hari yang lalu aku bermimpi dengannya. Benarkah aku akan melihatnya lagi?

Pada pertemuan aku denganmu kemarin kau seperti kanak-kanak yang lincah bermain hujan. Engkau habis mandi di sore hari dan kau keluar dengan rambut yang basah dana kulit yang lembab. Aku seperti mendengar suara yang meluncur juga suara air yang meluncur dari tubuhmu. Aku mendapati juga dirimu menyibakkan rambut dengan tenang seperti ujung temiti. Bangsat apa kau bilang kau ini hanya omong kosong belaka. Hanya tahu isi gedang goreng kepala busuk rsmbut bonyok.

Sialan. Heh siapa sangka cecenguk itu datang lagi. Ia masih dengan rambut klimis, mowhak dan jam timex di lengan kiri yang bersuara “tit-tit” setiap kali penanda waktu itu menunjuk menit nol-nol. Tapi benarkah waktu berjalan, atau hanya pikiran kita saja yang menyesuaikan? Saya hanyaa merasakan gerak perubahan di nafas dan cahaya matamu.

Pada hari yang lain Aku menunggu perempuan itudi stasiun metro subway 20 meter di bawah kota Yog. Aku belum menemukannmu pada jajaran pintu troli yang membuka otomatis. Wajah-wajah tak kukenal bermunculan. Kebanyakan dengan muka berkeringat. Metro yang membawamu No.52 datang agak telat, seperti yang diinformasikan oleh suara cantik pada loud speaker di atasku. Maka aku belum beranjak dari kursiku. Menyalakan sigaret dan menghisapnya dengan nafas dalam dan berat. Aku batuk-batuk, keras, hingga seorang muda berkacamata menoleh ke arahku. Tapi apa peduli mereka. Mumgkin pemuda itu mencoba membaca fikiranku. Barangkali Pemuda itu juga menunggu seseorang datang dari trem stasiun itu.
Deretan kursi plastik di stasiun itu telah penuh. Aku mulai mencium bau amis keringat laki-laki di sebelahku. Bah. Tak nyaman sama sekali. Kembali aku pada rumah ini. Berharap bisa mengobati kerinduanku padamu. Sore yang dipenuhi orang-orang yang bergegas kembali. Juga binatang-binatang yang bersiap diri. Aku mengurung diriku dalam dongeng yang kubuat sendiri. Dongeng tentang pertemuanku denganmu. Tetapi apakah kerinduan memang ada obatnya selain bertemu muka langsung denganmu?
Membasuh mukaku dengan air wudlu, aku rasakan kebekuan dan dingin yang menyelelimuti air. Semoga kau merasakannya kekasih. Begitu selalu kalimatku dalam hati. Tapi benarkah cukup waktu yang sedikit ini. Untuk kita sempat menjalin cerita tentang burung-burung yang membuat sarang. Juga cukupkah usia kita untuk kembali membahagiakan nenek-moyang kita.
Kerinduan ini sakit benar pada saat-saat tertentu kurasakan. Seperti sebuah siksaan. Aku sebagai laki-laki telah mati berkali-kali. Orang-orang, juga seorang perempuan mengatakan “Ada wanita lain selain dirimu”. Tapi benarkah perempuan yang lain bisa menciptakan kerinduan ini. Aku sebagai laki-laki separuh janda mencoba setia. Setia pada donngeng-dongeng yang kubuat sendiri. Makanya dalam senja ini kembali aku mengurung diri. Di tengah keramaian ataupun di tengah kebun yang sepi. Menemukan diriku dalam dunia khayal pertemuan denganmu.
Kenyataan yang menyakitkan adalah pada dirimu banyak lelaki membayangkan bisa bersanding denganmu. Maka pertemuan yang aku rencanakan ini mungkin menjadi banyak rencana pada banyak laki-laki itu. Dan itu sangat menyakitkan. Juga kecemburuanku pada kepulanganmu ke kampung halaman. Berarti aku terlalu khawatir kau akan menemukan cinta masa kecilmu. Kampung halaman itu.

Thursday, August 10, 2006

the book of my life

Dan hari pun jatuh kembali. Pagi hari dengan cuaca dingin. Aku tergeragap oleh mimpi buruk. Melirik pada jam digital pada handphone, kuraih, dan kucari-cari dengan penuh kesulitan karena kepala masih demikian pening. Tidur pada tikar tipis dengan selimut hanya selembar kain sarung. Aku tergeragap. Sudah pukul 7. dan rencanaku untuk bangun bagi dan melaksanakan rencana demi rencana yang kususun sejak kemarin menjadi mundur dan batal. Tetapi aku memaklumi diriku sendiri. aku selalu membuat rencana-rencana tetapi tak pernah tepat dengan waktu. Waktu? apakah itu. Aku tersadar pada usia sudah demikian tua. Wajah yang semakin mengeriput. Catatan demi catatan kutulis pada buku besar hidupku. Perulangan terhadap tema besar: cinta, kepedihan, luka-luka dan sedikit bahagia. Semuanya ada obatnya, semuanya ada penyakitnya.

Friday, August 04, 2006

Sunday bloody Sunday

Aku menerima e-mail yang di reply dari seorang kawan lama dari prancis. Beberapa bulan ini ia memang tengah berada di Palestine, di tengah-tengah kota Hebron di kamp-kamp pengungsi anak-anak. Aku langsung terbayang wajah Pauline. Ia tak pernah tega melihat darah, juga dentum-dentum perang yang kini terus mendera di sepanjang jalur Gaza. Pauline juga sedikit bercerita, ia terkena kecelakaan mobil dalam perjalanannya di kota Palestina. Dengan kameranya, aku bayangkan bagaimana ia juga mengabadikan anak-anak Palestine. Wajah-wajah yang lugu yang saban hari diliputi kecemasan kehilangan kebebasannya. Mereka harus bermain di tengah tengah moncong moncong senapan, mulai mengumpulkan batu-batu dan diajari bagaimana melempar batu dengan setiti. Aku masih terbayang Pauline, kecemasan bukan hanya tentang anak-anak Palestine itu , tetapi juga rasa egoku akan kehilangan seorang teman bernama Pauline.

Suatu sore, e-mail-email itu kembali aku buka. Sebuah email mulai penuh dengan attachment foto-foto terbaru dari Palestina. Beberapa foto menampilkan bagaimana anak-anak tak bisa lagi memasuki gedung-gedung sekolah mereka karena para tentara menhadangnya dan memeriksanya dengan todongan senjata. Anak-anak itu lalu hanya membikin barisan di di depan gedung sekolah, duduk di tempat sekenanya, mulai membuka buku pelajaran mereka dan mencoba tak peduli barisan tentara dnegan moncong senjata masih tertuju pada mereka.

Lalu Pauline muncul kembali, Ia tak pernah mengabariku semenjak emailnya yang terakhir dua minggu yang lalu.

Ini hanyalah jarak dua kota, ia, seorang perempuan, seorang diri, telah menjelajah kemana-mana, sedangkan aku hanya menunggu cerita-ceritanya dengan berdebar-debar.

Tunggulah dia pecundang!

Wednesday, August 02, 2006

Just follow the light

cuih.... aku berjalan menuju lorong tangga di lantai 3. Perempuan itu masih menghinggapiku. Rasa nyeri pada kepada, kantuk dan debu jalanan yang menusuk-nusuk mata semakin menambah penderitaanku. Ini hanya selongsong hari yang harus kurambati. Lorong tangga itu, dipenuhi dengan tempelan-tempelan poster dan pot-pot bunga di pojok-pojok. Lorong yang berliku seperti labirin.