Friday, August 04, 2006

Sunday bloody Sunday

Aku menerima e-mail yang di reply dari seorang kawan lama dari prancis. Beberapa bulan ini ia memang tengah berada di Palestine, di tengah-tengah kota Hebron di kamp-kamp pengungsi anak-anak. Aku langsung terbayang wajah Pauline. Ia tak pernah tega melihat darah, juga dentum-dentum perang yang kini terus mendera di sepanjang jalur Gaza. Pauline juga sedikit bercerita, ia terkena kecelakaan mobil dalam perjalanannya di kota Palestina. Dengan kameranya, aku bayangkan bagaimana ia juga mengabadikan anak-anak Palestine. Wajah-wajah yang lugu yang saban hari diliputi kecemasan kehilangan kebebasannya. Mereka harus bermain di tengah tengah moncong moncong senapan, mulai mengumpulkan batu-batu dan diajari bagaimana melempar batu dengan setiti. Aku masih terbayang Pauline, kecemasan bukan hanya tentang anak-anak Palestine itu , tetapi juga rasa egoku akan kehilangan seorang teman bernama Pauline.

Suatu sore, e-mail-email itu kembali aku buka. Sebuah email mulai penuh dengan attachment foto-foto terbaru dari Palestina. Beberapa foto menampilkan bagaimana anak-anak tak bisa lagi memasuki gedung-gedung sekolah mereka karena para tentara menhadangnya dan memeriksanya dengan todongan senjata. Anak-anak itu lalu hanya membikin barisan di di depan gedung sekolah, duduk di tempat sekenanya, mulai membuka buku pelajaran mereka dan mencoba tak peduli barisan tentara dnegan moncong senjata masih tertuju pada mereka.

Lalu Pauline muncul kembali, Ia tak pernah mengabariku semenjak emailnya yang terakhir dua minggu yang lalu.

Ini hanyalah jarak dua kota, ia, seorang perempuan, seorang diri, telah menjelajah kemana-mana, sedangkan aku hanya menunggu cerita-ceritanya dengan berdebar-debar.

Tunggulah dia pecundang!

No comments: