"My name is Constanze"... nama yang aneh, berkali-kali aku mengejanya dengan salah. Ia tertawa. Tawa yang renyah dan aku langsung bisa menyimpulkan dirinya orang yang hangat.
"Call me Candra.. more simple then yours!"
Suatu sore, kita naik sepeda sekedar untuk melihat pameran di Kedai kebun, lalu disambung ke Yogya Galeri lalu kalau tidak terlalu capai disambung ke Bentara Budaya. Kami sudah merencanakannya semenjak beberapa hari yang lalu.
Sebenarnya mungkin sudah dua tahun aku tidak naik sepeda lagi. Tetapi bila mempertimbangkan harga bensin yang naik dan motor 2 takku yang boros, aku mulai berfikir untuk naik sepeda ini.
Dua hari berselang aku menerima tantangan naik sepeda ini.
"We'll get fun with this old bicycle"
"Deal!" Spontan, tanpa kukontrol aku sudah mengatakan kata sepakat. Tak sempat berfikir dua kali mungkin saya sudah tidak kuat lagi mengayuh sepeda. Apalagi mengingat rute yang akan aku tempuh. Wuiiih, kalau dijalan nanti papasan dengan teman-teman...
Sepeda onthel tua yang kukendarai kukayuh dengan hati-hati. Sekujur tubuhnya sudah karatan. Terpaksa, aku mengganti rodanya, memberinya pelumas, dan sedikit mengelap biar kelihatan licin dengan gombal bekas. Karena saya sudah berjanji pada nona Constanze dari jerman itu. Pasti menarik pikirku!
Kami berangkat dari Perumahan Pelem Sewu. Di tempat itu memang ada banyak buah-buah mangga bergelantungan. Pernah kulontarkan pada nona Constanze tentang the story of thousand manggo itu... dengan ngawur..
"I think if you hungry you can steal one or more that marture mango"
"Good Idea, althougt the know, They will just let me go!"
Dan saya tahu, suatu ketika dia pernah menawarkan mangga dengan cekikikan dan sorot mata aneh.
Sampai pada jalan besar, aku sudah ngos-ngosan, berkeriSepeda onthel yang kukendarai berderat-derit. Kulihat nona Constanza masih dengan santainya mengayuh sepeda
Wednesday, December 13, 2006
Friday, November 03, 2006
who's gona ride your wild horses
You dangeress... 'couse you honest...
You dangeress... 'couse you don't know what to do....
..whose gonna ride your wild horses....
Sha...laa...llaa...... (U2--)
Lewat ribuan pasang mata yang telah kulalui sepanjang petang yang rembang itu, juga seleretan lampu-lampu aku bergegas menemuimu. Telah kupegang ditangan sebuah alamat tanpa nama dan tanpa pengharapan akankah alamat itu menuju pada sesuatu yang pasti? Aku hanya terdiam meski dibelakangku ada Gazi laki-laki dari Bangladesh yang berkali-kali melontarkan bahan-bahan pembicaraan.
"I feel trembling.... I feel fear... 3 years never met..?"
Pada senja yang kian rembang itu berkali-kali malaikat kecil di lengan kanan menyentilku, membisikkan sesuatu tentang: tidakkah ini sama artinya dengan berjudi? spekulasi tiada henti? dengan kemenangan yang tak bisa kaupertahankan? juga dengan kenangan yang kelak retak?
Tapi aku cuek saja. Ribuan pasang mata itu kulalui satu persatu, juga seleretan cahaya dan lajur-lajur aspal yang sesekali terlihat tikus gepeng di sana, sudah mengering dan dengan perut yang membuncah. Kasihan tikus - tikus kota itu...
Lalu sampailah aku pada tikungan di depan masjid. Petang yang rembang telah beralih pada malam. Telah lepas waktu Isya' dan orang-orang pada masjid telah pulang dengan membawa doa masing-masing. Perasaan semakin kacau....
Heart od the heartless heart...
dear heart... the thought of you is the pain at my side
the shaddow that chills my view...
the wind rise in the evening
remembered me that the auntum is near...
Jiwa jiwa di dunia yang hilang jiwa
jiwa sayang, kenangan padamu...
adalah derita disisiku
bayangan yang bikin tinjauan beku
Angin datang menjelang senja
mengingatkan padaku musim gugur segera tiba... (chairil anwar)
Aku mengumpulkan segenap kekuatanku..., juga rasa penasaranku sebagai laki laki, menyalakan lagi mesin motorku dan membelok pada tikungan di belakang masjid......
Tapi aku tak menemukanmu di sana....
There's the light that never goes's out......
You dangeress... 'couse you don't know what to do....
..whose gonna ride your wild horses....
Sha...laa...llaa...... (U2--)
Lewat ribuan pasang mata yang telah kulalui sepanjang petang yang rembang itu, juga seleretan lampu-lampu aku bergegas menemuimu. Telah kupegang ditangan sebuah alamat tanpa nama dan tanpa pengharapan akankah alamat itu menuju pada sesuatu yang pasti? Aku hanya terdiam meski dibelakangku ada Gazi laki-laki dari Bangladesh yang berkali-kali melontarkan bahan-bahan pembicaraan.
"I feel trembling.... I feel fear... 3 years never met..?"
Pada senja yang kian rembang itu berkali-kali malaikat kecil di lengan kanan menyentilku, membisikkan sesuatu tentang: tidakkah ini sama artinya dengan berjudi? spekulasi tiada henti? dengan kemenangan yang tak bisa kaupertahankan? juga dengan kenangan yang kelak retak?
Tapi aku cuek saja. Ribuan pasang mata itu kulalui satu persatu, juga seleretan cahaya dan lajur-lajur aspal yang sesekali terlihat tikus gepeng di sana, sudah mengering dan dengan perut yang membuncah. Kasihan tikus - tikus kota itu...
Lalu sampailah aku pada tikungan di depan masjid. Petang yang rembang telah beralih pada malam. Telah lepas waktu Isya' dan orang-orang pada masjid telah pulang dengan membawa doa masing-masing. Perasaan semakin kacau....
Heart od the heartless heart...
dear heart... the thought of you is the pain at my side
the shaddow that chills my view...
the wind rise in the evening
remembered me that the auntum is near...
Jiwa jiwa di dunia yang hilang jiwa
jiwa sayang, kenangan padamu...
adalah derita disisiku
bayangan yang bikin tinjauan beku
Angin datang menjelang senja
mengingatkan padaku musim gugur segera tiba... (chairil anwar)
Aku mengumpulkan segenap kekuatanku..., juga rasa penasaranku sebagai laki laki, menyalakan lagi mesin motorku dan membelok pada tikungan di belakang masjid......
Tapi aku tak menemukanmu di sana....
There's the light that never goes's out......
Thursday, November 02, 2006
nice dream
akhirnya aku merasa sangat mengantuk. Aku menatap layar yang masih berpendar di depanku , kadang-kadang menjadi kabur. Aku menikmati ruangan kotak persegi ini. kursi yang empuk, udara hangat yang berhembus dari propeler dan "Heart to heart"-nya Patti Austin. Aku teringat dua atau mungkin 3 tahun silam tentang seorang perempuan rapuh bernama Mbak Ning. Perempuan dengan tubuh kurus, ringkih dan ukuran kaki teramat kecil. Ia sering sakit-sakitan dan katanya lewat sorot matanya ia terbiasa melihat hantu di siang bolong. Bahkan Ia bisa menebak isi pikiran orang. mbak ning cucu seorang dalang. tetapi sedikitpun kini ia tak mengetahui perihal pedalangan karena ia tinggal di jakarta.
Monday, October 23, 2006
Mama don't you cry
Ibunda adalah seorang ibu yang bahagia mendapatkanku sebagai seorang anak yang lincah dan nakal. Aku memang punya "dua unyeng2" yang menurut orang jawa bilang; "anak yang nakal". Aku menetek pada ibu sampai aku masuk kelas 1 SD. Karena aku si bungsu yang manja. Ibunda selalu membawaku ke mana-mana. DI mata ibunda, aku seorang anak yang rapuh dan sakit-sakitan. Semenjak lahir aku sudah dimasukkan inkubator, bayi yang prematur dan mendapatkan transfusi darah dari seorang tukang becak di Bethesda! Tetapi aku adalah seorang malin kundang. Pergi ke suatu tempat yang asing, bertemu dengan banyak kawan-kawan, kesenangan demi kesenangan, jatuh cinta dan patah hati berkali-kali..... *** Taoi tiap kali aku bermimpi kembali, tetapi tak bisa kumengeri apakah ini mimpi buruk apakah mimpi biasa. Tetapi aku terbangun dengan tergeragap dan berkeringat. Seorang diri. Orang-orang di ruangan ini telah beranjak pergi saat aku benar-benar tertidur. Dalam mimpiku aku bertemu dengan ibukku, kawan-kawan lamaku dan hey... tempat yang aneh yang biasa kutemui dalam mimpi? Aku merindukanmu Ibunda....
Mbah Kakung
Ia tergolek lemah pada ranjang di kamar belakang. Sebuah kamar dengan dinding tembok kordin dan cahaya matahari menerobos dari satu genting kaca. Udara menghembuskan aroma yang aneh, seperti aroma yang telah mengendap berpulu-puluh tahun silam. Suaranya parau dan susah untuk ditangkap. Tetapi sorot matanya masih menyala dan sedikit berlinang air mata. Ia mengatakan sesatu dalam suaranya yang parau itu tentang cucu-cucunya dan ia tersenyum saat Gading, keponakanku meraih genggaman tangannya yang rapuh. Tangan itu terbalut kulit yang keras dan hitam. Sudah keriput. Seakan-akan tangan itu bergetar saat meraih tangan mungil yang lembut dan gembur. Kedua mata itupun bertemu.
"Ini mbah kakung!" kata ibunya.
Mbah kakung pun tersenyum, menampakkan mulutnya yang ompong, kembali manja sebagai seorang bocah.
***
Lalu tak ada yang pernah menduga dengan pasti seperti kematian biasanya, Mbah kakung meninggal pada hari lebaran ke-3 pada tahun 2004. Satu permintaan dari mbah kakung yang tak terpenuhi sampai saat menjelang ajalnya yakni bertemu dengan anaknya yang paling besar.
***
Kadangkala pada saat melintas di jalanan aku tersentak seperti melihat Mbah kakung melintas. Semasa hidupnya mbah kakung naik sepeda onthel kemana-mana. Bahkan pada saat usianya yang sepuh dan seminggu sebelum ia kematiannya pun ia masih mengayuh sepedanya.
Kini tiap kali lebaran dan tiap kali melihat seorang tua dengan sepeda dan mengenakan topi, saya teringat pada Mbah kakung.....
"Ini mbah kakung!" kata ibunya.
Mbah kakung pun tersenyum, menampakkan mulutnya yang ompong, kembali manja sebagai seorang bocah.
***
Lalu tak ada yang pernah menduga dengan pasti seperti kematian biasanya, Mbah kakung meninggal pada hari lebaran ke-3 pada tahun 2004. Satu permintaan dari mbah kakung yang tak terpenuhi sampai saat menjelang ajalnya yakni bertemu dengan anaknya yang paling besar.
***
Kadangkala pada saat melintas di jalanan aku tersentak seperti melihat Mbah kakung melintas. Semasa hidupnya mbah kakung naik sepeda onthel kemana-mana. Bahkan pada saat usianya yang sepuh dan seminggu sebelum ia kematiannya pun ia masih mengayuh sepedanya.
Kini tiap kali lebaran dan tiap kali melihat seorang tua dengan sepeda dan mengenakan topi, saya teringat pada Mbah kakung.....
Saturday, October 21, 2006
interlude
Rumahmu adalah rumah senja. Rumah yang dikelilingi rerimbun pohon, secangkir kopi pada meja dan seekor kucing hitam dengan keempat kaki berwarna putih melingkar di pojok lobby. Rumahmu juga rumah yang sederhana yang selalu sepi dan jauh dari keramaian kota. tapi dari rumahmu kau bisa melihat hiruk pikuk kota di kejauhan dan puluhan pesawat yang tinggal landas, bergemuruh di sepanjang hari. Kau selalu bercerita tentang keinginanmu mengekalkan saat seperti itu. ketika aku, engkau, dua buah cangkir kopi, makanan-makanan kecil dalam toples, sepotong pembicaraan dan seekor kucing yang melingkar dipojok lobby dengan pelataran bernunsa senja. Lalu satu demi satu kita membokar pembicaraan kita masing-masing. membuka-buka kembali catatan-catatan buruk dan tingkah laku buta. Kita juga menyaksikan perang berkecamuk dimana-mana. beberapa orang baru yang kita kenal, banyak orang yang kita sudah tidak tahu lagi keberadaaanya. Kita tak pernah membicarakan tentang masa depan, karena masa depan adalah sesuatu yang menakutkan yang bisa menghilangkan saat sepeti ini.
Friday, August 25, 2006
Friday I'm in love
I don't care in monday//
tuesday and wendesday I don't care too//
Friday I'm in love...
Ini adalah ceritaku yang kesekian puluh kalinya kau dengar tentang perempuan itu. Juga tentang sebuah lorong dengan dinding penuh tempelan poster bergambar binatang, angka-angka dan benda benda. Lorong yang berujung pada sebuah ruangan persegi di lantai tiga dengan udara dingin dari kotak AC, tumpukan-tumpukan arsip, komputer, dan tentu perempuan itu. Hari itu ia mengenakan T-shirt oranye bergambar kura-kura. Ia membiarkan rambutnya yang di cat kemerahan itu dibiarkan tergerai, agak sagghy.
Saat aku memasuki ruangan di lantai tiga ujung lorong tangga itu, Ia tengah membolak-balik sebuah buku catatan. Udara dingin langsung menghambur, dari AC. Ah, betapa panasnya udara di luar daripada di dalam ruangan itu. Bagiku, ia pura-pura masih sibuk dengan lembaran-lembaran arsip itu, menyapaku dengan kaku mempersilahkanku seperti biasa. Seperti biasa? ya, terlalu biasa, mungkin sudah lusinan kali kulakukan dalam ruangan persegi itu.
tuesday and wendesday I don't care too//
Friday I'm in love...
Ini adalah ceritaku yang kesekian puluh kalinya kau dengar tentang perempuan itu. Juga tentang sebuah lorong dengan dinding penuh tempelan poster bergambar binatang, angka-angka dan benda benda. Lorong yang berujung pada sebuah ruangan persegi di lantai tiga dengan udara dingin dari kotak AC, tumpukan-tumpukan arsip, komputer, dan tentu perempuan itu. Hari itu ia mengenakan T-shirt oranye bergambar kura-kura. Ia membiarkan rambutnya yang di cat kemerahan itu dibiarkan tergerai, agak sagghy.
Saat aku memasuki ruangan di lantai tiga ujung lorong tangga itu, Ia tengah membolak-balik sebuah buku catatan. Udara dingin langsung menghambur, dari AC. Ah, betapa panasnya udara di luar daripada di dalam ruangan itu. Bagiku, ia pura-pura masih sibuk dengan lembaran-lembaran arsip itu, menyapaku dengan kaku mempersilahkanku seperti biasa. Seperti biasa? ya, terlalu biasa, mungkin sudah lusinan kali kulakukan dalam ruangan persegi itu.
Sunday, August 20, 2006
Pulp fiction
I've tried so hard my dear to show
That you're my every dream
Yet you're afraid each thing I do
Is just some evil scheme
"Cold Cold Heart"-Norah Jones
Pada Timex seri Indigo di lengan kirinya menunjuk kode “TUE -- 10:21 -- 03:19:31“. Kode itu bukan apa-apa selain deretan angka yang membuatnya teringat ia telah melampaui semalam lagi. Dari hari senin berganti hari selasa. Tetapi apakah penanda perubahan hari selain perubahan cuaca dan gerak udara? Benarkah ada yang berubah? Ia yakin ia telah berada di ruangan itu sekian lama, mungkin lebih tua dari usia lumut-lumut di kastil-kastil kota Atlantis atau lebih purba dibanding batu prasasti kutukan raja Tarumanegara. Ia hafal betul setiap benda disitu, lekuk likunya, perpindahannya, nama-nama dan fungsinya. Ia hapal dimana ia meletakkannya seperti dihapalnya arah mata angin pada peta dan koordinat-koordinat sang nahkoda kapal; ia tahu ia menyelipkan seribu rupiah di bawah asbak, menaruh fotokopi terjemah “Zun Tzu The art of War “ di atas bufet, menyisakan gelas kopinya di dekat lampu gantung di bawah plafon, menuliskan nama seorang gadis “N” dengan pensil di tembok di bawah jendela, menempelkan stiker yang hampir mengelupas “Go Kill your Self” di depan CPU, menorehkan mayat seekor nyamuk yang ia tepuk di depan layar monitor, menyimpan surat-suratnya pada almari, mempunyai sebatang Dji Sam Soe di atas kotak loadspeaker, asbak dengan sisa abu rokok dan bau tembakau, poster-poster besar, kertas-kertas, buku-buku, lampu, mesin ketik tua, dan udara yang sepertinya masih menyimpan jejak nafas nenek moyangnya yang terperangkap dalam lubang ventilasi.
Hardi, teman karibnya telah pergi sekitar dua jam lalu. Curly hair, dark skin, sorot mata yang tajam bibir yang kering dengan bekas perokok yang kentara. Suara kepergian motornya seperti masih menggemuruh dalam liang telinganya bercampur dengan pekaknya malam. Tetapi ia seperti merasakan Hardi belum pergi, masih duduk-duduk, merokok, menegak coffemix, membuka-buka lembaran magazine, menggerutu, membolak-balik album foto dan kadang bercakap tentang sesuatu yang biasa seperti ;”Lex punya duit ora?”
“Tidak” jawab laki-laki kecil kurus tinggi—black t-shirt, mohawk hair, arloji timex digital di lengan kiri dan celana pendek potongan jeans belel, mata yang merah dan bibir yang kering.Laki-laki itu memang tengah tak menggembol duit sepeserpun. Ketika temannya, Hardi datang ia tengah tidur pulas, tengkurap di depan layar komputer yang menyala. Monitor menyala dengan wallpaper foto seorang kulit hitam di medan perang tengah berlari dan melompat dengan girang. Foto itu lumayan artistik—ia download dari situs Time magazine edisi foto-foto “war and civilization” .
Ia yakin, ketika ia tertidur di depan komputer itu ia belum mengetikkan sebuah kata pun pada program aplikasi ms-word yang masih menyala. Background ms-word itu sengaja ia set blue background white text, sedangkan loundspeaker masih mengalunkan MP3 “Norah Jones” dari title “come away with me” sampai “Cold-Cold Heart”, Nina Persson [Cardigans] dengan “Desafinado” dan “Ella fitzgerald” dengan full album A Classy Pair , berganti-ganti seperti sebuah kompilasi jazz yang tertib antara musim dingin, musim panas, musim gugur dan musim semi.
Lalu ia meluai meneliti, membolak-balik tiap lembar kertas memo, coretan-coretan, atau apa saja yang membuatnya bisa menemukan jawaban mengapa pagi itu ia belum mengetik sesuatu apapun pada keyboard dan screen komputer blue background white text tersebut. Ketika temannya Hardi datang, ia tak bisa lagi tertidur. Rasa kantuknya telah lenyap entah kemana. Memang Hardi membuatkannya kopi dan diteguk bersama-sama. One Drink one song, istilahnya, yang berarti satu cangkir minuman buat berdua.
Ia memang terbiasa begadang, tetapi malam ini adalah malam yang lain. Grafitasi di ruangan itu seperti raib. Di punggungnya kini tumbuh sepasang sayap yang membuatnya terasa ringan.bergerak dan berlahan-lahan tapi pasti ia melayang. Kedua sayap itu bergerak dengan sendirinya tanpa suara. Ia melambung tak menjejak lagi.
Ia belum menemukan jawabnya kecuali ketika ia sempat tertidur yang sekilas saja itu, sekitar sepuluh menit, ia bermimpi. Mimpinya masih berhubungan dengan apa yang ia alami sore itu dan apa yang ia alami lusa hari dan beberapa hari lampau seperti sebuah konstalasi. Benarkah nasib berhubungan dengan ia yang lain di dunia pararel? Barangkali ia yang lain di dunia yang lain pada waktu yang pararel itu juga tengah terjaga dalam posisi yang sama tetapi dengan nama berbeda, dengan kemungkinan nasib yang berbeda. Barangkali ia yang lain di dunia pararel itu juga punya kawan seperti Hardi tetapi namanya bukan Hardi. Tetapi pentingkah sebuah nama? Atau hanya penanda?
***
Hari ini saya tak bergerak keman-mana. Tinggal seperti biasa di dalam rumah dengan sebuah beban kepala yang pening. Tapi siapa sangka kepala yang pening itu justru membuahkan pikiran-pikiran brilian? Misalnya untuk bisa lepas darimu aku harus membunuhmu dengan sebuah rencana pembunuhan yang rapih dan teliti.
Aku bertemu muka dengan seorang perempuan dari Ubud. Bali. Orang ini agak aneh. Sopan sekali. Tetapi benarkah orang-orang bali itu sopan-sopan. Ia sekarang tengah tidur di dekatku sekarang. Ia sangat kelelahan setelah seharian ini ia keliling kemana-mana. Aku melihat pada dirinya. Wajah yang lelah itu. Siapa sangka aku seperti melihat ibuku? Ibuku telah mati. Beberapa hari yang lalu aku bermimpi dengannya. Benarkah aku akan melihatnya lagi?
Pada pertemuan aku denganmu kemarin kau seperti kanak-kanak yang lincah bermain hujan. Engkau habis mandi di sore hari dan kau keluar dengan rambut yang basah dana kulit yang lembab. Aku seperti mendengar suara yang meluncur juga suara air yang meluncur dari tubuhmu. Aku mendapati juga dirimu menyibakkan rambut dengan tenang seperti ujung temiti. Bangsat apa kau bilang kau ini hanya omong kosong belaka. Hanya tahu isi gedang goreng kepala busuk rsmbut bonyok.
Sialan. Heh siapa sangka cecenguk itu datang lagi. Ia masih dengan rambut klimis, mowhak dan jam timex di lengan kiri yang bersuara “tit-tit” setiap kali penanda waktu itu menunjuk menit nol-nol. Tapi benarkah waktu berjalan, atau hanya pikiran kita saja yang menyesuaikan? Saya hanyaa merasakan gerak perubahan di nafas dan cahaya matamu.
Pada hari yang lain Aku menunggu perempuan itudi stasiun metro subway 20 meter di bawah kota Yog. Aku belum menemukannmu pada jajaran pintu troli yang membuka otomatis. Wajah-wajah tak kukenal bermunculan. Kebanyakan dengan muka berkeringat. Metro yang membawamu No.52 datang agak telat, seperti yang diinformasikan oleh suara cantik pada loud speaker di atasku. Maka aku belum beranjak dari kursiku. Menyalakan sigaret dan menghisapnya dengan nafas dalam dan berat. Aku batuk-batuk, keras, hingga seorang muda berkacamata menoleh ke arahku. Tapi apa peduli mereka. Mumgkin pemuda itu mencoba membaca fikiranku. Barangkali Pemuda itu juga menunggu seseorang datang dari trem stasiun itu.
Deretan kursi plastik di stasiun itu telah penuh. Aku mulai mencium bau amis keringat laki-laki di sebelahku. Bah. Tak nyaman sama sekali. Kembali aku pada rumah ini. Berharap bisa mengobati kerinduanku padamu. Sore yang dipenuhi orang-orang yang bergegas kembali. Juga binatang-binatang yang bersiap diri. Aku mengurung diriku dalam dongeng yang kubuat sendiri. Dongeng tentang pertemuanku denganmu. Tetapi apakah kerinduan memang ada obatnya selain bertemu muka langsung denganmu?
Membasuh mukaku dengan air wudlu, aku rasakan kebekuan dan dingin yang menyelelimuti air. Semoga kau merasakannya kekasih. Begitu selalu kalimatku dalam hati. Tapi benarkah cukup waktu yang sedikit ini. Untuk kita sempat menjalin cerita tentang burung-burung yang membuat sarang. Juga cukupkah usia kita untuk kembali membahagiakan nenek-moyang kita.
Kerinduan ini sakit benar pada saat-saat tertentu kurasakan. Seperti sebuah siksaan. Aku sebagai laki-laki telah mati berkali-kali. Orang-orang, juga seorang perempuan mengatakan “Ada wanita lain selain dirimu”. Tapi benarkah perempuan yang lain bisa menciptakan kerinduan ini. Aku sebagai laki-laki separuh janda mencoba setia. Setia pada donngeng-dongeng yang kubuat sendiri. Makanya dalam senja ini kembali aku mengurung diri. Di tengah keramaian ataupun di tengah kebun yang sepi. Menemukan diriku dalam dunia khayal pertemuan denganmu.
Kenyataan yang menyakitkan adalah pada dirimu banyak lelaki membayangkan bisa bersanding denganmu. Maka pertemuan yang aku rencanakan ini mungkin menjadi banyak rencana pada banyak laki-laki itu. Dan itu sangat menyakitkan. Juga kecemburuanku pada kepulanganmu ke kampung halaman. Berarti aku terlalu khawatir kau akan menemukan cinta masa kecilmu. Kampung halaman itu.
That you're my every dream
Yet you're afraid each thing I do
Is just some evil scheme
"Cold Cold Heart"-Norah Jones
Pada Timex seri Indigo di lengan kirinya menunjuk kode “TUE -- 10:21 -- 03:19:31“. Kode itu bukan apa-apa selain deretan angka yang membuatnya teringat ia telah melampaui semalam lagi. Dari hari senin berganti hari selasa. Tetapi apakah penanda perubahan hari selain perubahan cuaca dan gerak udara? Benarkah ada yang berubah? Ia yakin ia telah berada di ruangan itu sekian lama, mungkin lebih tua dari usia lumut-lumut di kastil-kastil kota Atlantis atau lebih purba dibanding batu prasasti kutukan raja Tarumanegara. Ia hafal betul setiap benda disitu, lekuk likunya, perpindahannya, nama-nama dan fungsinya. Ia hapal dimana ia meletakkannya seperti dihapalnya arah mata angin pada peta dan koordinat-koordinat sang nahkoda kapal; ia tahu ia menyelipkan seribu rupiah di bawah asbak, menaruh fotokopi terjemah “Zun Tzu The art of War “ di atas bufet, menyisakan gelas kopinya di dekat lampu gantung di bawah plafon, menuliskan nama seorang gadis “N” dengan pensil di tembok di bawah jendela, menempelkan stiker yang hampir mengelupas “Go Kill your Self” di depan CPU, menorehkan mayat seekor nyamuk yang ia tepuk di depan layar monitor, menyimpan surat-suratnya pada almari, mempunyai sebatang Dji Sam Soe di atas kotak loadspeaker, asbak dengan sisa abu rokok dan bau tembakau, poster-poster besar, kertas-kertas, buku-buku, lampu, mesin ketik tua, dan udara yang sepertinya masih menyimpan jejak nafas nenek moyangnya yang terperangkap dalam lubang ventilasi.
Hardi, teman karibnya telah pergi sekitar dua jam lalu. Curly hair, dark skin, sorot mata yang tajam bibir yang kering dengan bekas perokok yang kentara. Suara kepergian motornya seperti masih menggemuruh dalam liang telinganya bercampur dengan pekaknya malam. Tetapi ia seperti merasakan Hardi belum pergi, masih duduk-duduk, merokok, menegak coffemix, membuka-buka lembaran magazine, menggerutu, membolak-balik album foto dan kadang bercakap tentang sesuatu yang biasa seperti ;”Lex punya duit ora?”
“Tidak” jawab laki-laki kecil kurus tinggi—black t-shirt, mohawk hair, arloji timex digital di lengan kiri dan celana pendek potongan jeans belel, mata yang merah dan bibir yang kering.Laki-laki itu memang tengah tak menggembol duit sepeserpun. Ketika temannya, Hardi datang ia tengah tidur pulas, tengkurap di depan layar komputer yang menyala. Monitor menyala dengan wallpaper foto seorang kulit hitam di medan perang tengah berlari dan melompat dengan girang. Foto itu lumayan artistik—ia download dari situs Time magazine edisi foto-foto “war and civilization” .
Ia yakin, ketika ia tertidur di depan komputer itu ia belum mengetikkan sebuah kata pun pada program aplikasi ms-word yang masih menyala. Background ms-word itu sengaja ia set blue background white text, sedangkan loundspeaker masih mengalunkan MP3 “Norah Jones” dari title “come away with me” sampai “Cold-Cold Heart”, Nina Persson [Cardigans] dengan “Desafinado” dan “Ella fitzgerald” dengan full album A Classy Pair , berganti-ganti seperti sebuah kompilasi jazz yang tertib antara musim dingin, musim panas, musim gugur dan musim semi.
Lalu ia meluai meneliti, membolak-balik tiap lembar kertas memo, coretan-coretan, atau apa saja yang membuatnya bisa menemukan jawaban mengapa pagi itu ia belum mengetik sesuatu apapun pada keyboard dan screen komputer blue background white text tersebut. Ketika temannya Hardi datang, ia tak bisa lagi tertidur. Rasa kantuknya telah lenyap entah kemana. Memang Hardi membuatkannya kopi dan diteguk bersama-sama. One Drink one song, istilahnya, yang berarti satu cangkir minuman buat berdua.
Ia memang terbiasa begadang, tetapi malam ini adalah malam yang lain. Grafitasi di ruangan itu seperti raib. Di punggungnya kini tumbuh sepasang sayap yang membuatnya terasa ringan.bergerak dan berlahan-lahan tapi pasti ia melayang. Kedua sayap itu bergerak dengan sendirinya tanpa suara. Ia melambung tak menjejak lagi.
Ia belum menemukan jawabnya kecuali ketika ia sempat tertidur yang sekilas saja itu, sekitar sepuluh menit, ia bermimpi. Mimpinya masih berhubungan dengan apa yang ia alami sore itu dan apa yang ia alami lusa hari dan beberapa hari lampau seperti sebuah konstalasi. Benarkah nasib berhubungan dengan ia yang lain di dunia pararel? Barangkali ia yang lain di dunia yang lain pada waktu yang pararel itu juga tengah terjaga dalam posisi yang sama tetapi dengan nama berbeda, dengan kemungkinan nasib yang berbeda. Barangkali ia yang lain di dunia pararel itu juga punya kawan seperti Hardi tetapi namanya bukan Hardi. Tetapi pentingkah sebuah nama? Atau hanya penanda?
***
Hari ini saya tak bergerak keman-mana. Tinggal seperti biasa di dalam rumah dengan sebuah beban kepala yang pening. Tapi siapa sangka kepala yang pening itu justru membuahkan pikiran-pikiran brilian? Misalnya untuk bisa lepas darimu aku harus membunuhmu dengan sebuah rencana pembunuhan yang rapih dan teliti.
Aku bertemu muka dengan seorang perempuan dari Ubud. Bali. Orang ini agak aneh. Sopan sekali. Tetapi benarkah orang-orang bali itu sopan-sopan. Ia sekarang tengah tidur di dekatku sekarang. Ia sangat kelelahan setelah seharian ini ia keliling kemana-mana. Aku melihat pada dirinya. Wajah yang lelah itu. Siapa sangka aku seperti melihat ibuku? Ibuku telah mati. Beberapa hari yang lalu aku bermimpi dengannya. Benarkah aku akan melihatnya lagi?
Pada pertemuan aku denganmu kemarin kau seperti kanak-kanak yang lincah bermain hujan. Engkau habis mandi di sore hari dan kau keluar dengan rambut yang basah dana kulit yang lembab. Aku seperti mendengar suara yang meluncur juga suara air yang meluncur dari tubuhmu. Aku mendapati juga dirimu menyibakkan rambut dengan tenang seperti ujung temiti. Bangsat apa kau bilang kau ini hanya omong kosong belaka. Hanya tahu isi gedang goreng kepala busuk rsmbut bonyok.
Sialan. Heh siapa sangka cecenguk itu datang lagi. Ia masih dengan rambut klimis, mowhak dan jam timex di lengan kiri yang bersuara “tit-tit” setiap kali penanda waktu itu menunjuk menit nol-nol. Tapi benarkah waktu berjalan, atau hanya pikiran kita saja yang menyesuaikan? Saya hanyaa merasakan gerak perubahan di nafas dan cahaya matamu.
Pada hari yang lain Aku menunggu perempuan itudi stasiun metro subway 20 meter di bawah kota Yog. Aku belum menemukannmu pada jajaran pintu troli yang membuka otomatis. Wajah-wajah tak kukenal bermunculan. Kebanyakan dengan muka berkeringat. Metro yang membawamu No.52 datang agak telat, seperti yang diinformasikan oleh suara cantik pada loud speaker di atasku. Maka aku belum beranjak dari kursiku. Menyalakan sigaret dan menghisapnya dengan nafas dalam dan berat. Aku batuk-batuk, keras, hingga seorang muda berkacamata menoleh ke arahku. Tapi apa peduli mereka. Mumgkin pemuda itu mencoba membaca fikiranku. Barangkali Pemuda itu juga menunggu seseorang datang dari trem stasiun itu.
Deretan kursi plastik di stasiun itu telah penuh. Aku mulai mencium bau amis keringat laki-laki di sebelahku. Bah. Tak nyaman sama sekali. Kembali aku pada rumah ini. Berharap bisa mengobati kerinduanku padamu. Sore yang dipenuhi orang-orang yang bergegas kembali. Juga binatang-binatang yang bersiap diri. Aku mengurung diriku dalam dongeng yang kubuat sendiri. Dongeng tentang pertemuanku denganmu. Tetapi apakah kerinduan memang ada obatnya selain bertemu muka langsung denganmu?
Membasuh mukaku dengan air wudlu, aku rasakan kebekuan dan dingin yang menyelelimuti air. Semoga kau merasakannya kekasih. Begitu selalu kalimatku dalam hati. Tapi benarkah cukup waktu yang sedikit ini. Untuk kita sempat menjalin cerita tentang burung-burung yang membuat sarang. Juga cukupkah usia kita untuk kembali membahagiakan nenek-moyang kita.
Kerinduan ini sakit benar pada saat-saat tertentu kurasakan. Seperti sebuah siksaan. Aku sebagai laki-laki telah mati berkali-kali. Orang-orang, juga seorang perempuan mengatakan “Ada wanita lain selain dirimu”. Tapi benarkah perempuan yang lain bisa menciptakan kerinduan ini. Aku sebagai laki-laki separuh janda mencoba setia. Setia pada donngeng-dongeng yang kubuat sendiri. Makanya dalam senja ini kembali aku mengurung diri. Di tengah keramaian ataupun di tengah kebun yang sepi. Menemukan diriku dalam dunia khayal pertemuan denganmu.
Kenyataan yang menyakitkan adalah pada dirimu banyak lelaki membayangkan bisa bersanding denganmu. Maka pertemuan yang aku rencanakan ini mungkin menjadi banyak rencana pada banyak laki-laki itu. Dan itu sangat menyakitkan. Juga kecemburuanku pada kepulanganmu ke kampung halaman. Berarti aku terlalu khawatir kau akan menemukan cinta masa kecilmu. Kampung halaman itu.
Thursday, August 10, 2006
the book of my life
Dan hari pun jatuh kembali. Pagi hari dengan cuaca dingin. Aku tergeragap oleh mimpi buruk. Melirik pada jam digital pada handphone, kuraih, dan kucari-cari dengan penuh kesulitan karena kepala masih demikian pening. Tidur pada tikar tipis dengan selimut hanya selembar kain sarung. Aku tergeragap. Sudah pukul 7. dan rencanaku untuk bangun bagi dan melaksanakan rencana demi rencana yang kususun sejak kemarin menjadi mundur dan batal. Tetapi aku memaklumi diriku sendiri. aku selalu membuat rencana-rencana tetapi tak pernah tepat dengan waktu. Waktu? apakah itu. Aku tersadar pada usia sudah demikian tua. Wajah yang semakin mengeriput. Catatan demi catatan kutulis pada buku besar hidupku. Perulangan terhadap tema besar: cinta, kepedihan, luka-luka dan sedikit bahagia. Semuanya ada obatnya, semuanya ada penyakitnya.
Friday, August 04, 2006
Sunday bloody Sunday
Aku menerima e-mail yang di reply dari seorang kawan lama dari prancis. Beberapa bulan ini ia memang tengah berada di Palestine, di tengah-tengah kota Hebron di kamp-kamp pengungsi anak-anak. Aku langsung terbayang wajah Pauline. Ia tak pernah tega melihat darah, juga dentum-dentum perang yang kini terus mendera di sepanjang jalur Gaza. Pauline juga sedikit bercerita, ia terkena kecelakaan mobil dalam perjalanannya di kota Palestina. Dengan kameranya, aku bayangkan bagaimana ia juga mengabadikan anak-anak Palestine. Wajah-wajah yang lugu yang saban hari diliputi kecemasan kehilangan kebebasannya. Mereka harus bermain di tengah tengah moncong moncong senapan, mulai mengumpulkan batu-batu dan diajari bagaimana melempar batu dengan setiti. Aku masih terbayang Pauline, kecemasan bukan hanya tentang anak-anak Palestine itu , tetapi juga rasa egoku akan kehilangan seorang teman bernama Pauline.
Suatu sore, e-mail-email itu kembali aku buka. Sebuah email mulai penuh dengan attachment foto-foto terbaru dari Palestina. Beberapa foto menampilkan bagaimana anak-anak tak bisa lagi memasuki gedung-gedung sekolah mereka karena para tentara menhadangnya dan memeriksanya dengan todongan senjata. Anak-anak itu lalu hanya membikin barisan di di depan gedung sekolah, duduk di tempat sekenanya, mulai membuka buku pelajaran mereka dan mencoba tak peduli barisan tentara dnegan moncong senjata masih tertuju pada mereka.
Lalu Pauline muncul kembali, Ia tak pernah mengabariku semenjak emailnya yang terakhir dua minggu yang lalu.
Ini hanyalah jarak dua kota, ia, seorang perempuan, seorang diri, telah menjelajah kemana-mana, sedangkan aku hanya menunggu cerita-ceritanya dengan berdebar-debar.
Tunggulah dia pecundang!
Suatu sore, e-mail-email itu kembali aku buka. Sebuah email mulai penuh dengan attachment foto-foto terbaru dari Palestina. Beberapa foto menampilkan bagaimana anak-anak tak bisa lagi memasuki gedung-gedung sekolah mereka karena para tentara menhadangnya dan memeriksanya dengan todongan senjata. Anak-anak itu lalu hanya membikin barisan di di depan gedung sekolah, duduk di tempat sekenanya, mulai membuka buku pelajaran mereka dan mencoba tak peduli barisan tentara dnegan moncong senjata masih tertuju pada mereka.
Lalu Pauline muncul kembali, Ia tak pernah mengabariku semenjak emailnya yang terakhir dua minggu yang lalu.
Ini hanyalah jarak dua kota, ia, seorang perempuan, seorang diri, telah menjelajah kemana-mana, sedangkan aku hanya menunggu cerita-ceritanya dengan berdebar-debar.
Tunggulah dia pecundang!
Wednesday, August 02, 2006
Just follow the light
cuih.... aku berjalan menuju lorong tangga di lantai 3. Perempuan itu masih menghinggapiku. Rasa nyeri pada kepada, kantuk dan debu jalanan yang menusuk-nusuk mata semakin menambah penderitaanku. Ini hanya selongsong hari yang harus kurambati. Lorong tangga itu, dipenuhi dengan tempelan-tempelan poster dan pot-pot bunga di pojok-pojok. Lorong yang berliku seperti labirin.
Friday, July 28, 2006
Don't let me dry
Benar! aku berjalan menyusuri jalan berliku di tepian sungai kotaku. Tetapi sungai itu mengering hingga ke bawahnya hanya tersisa rekahan-rekahan tanah. Aku mengulum bibirku sendiri yang kurasakan juga mengering, pecah-pecah. Udara panas di sepanjang jalan dengan pohon-pohon yang berdesakan oleh angin. Tak ada burung-burung yang bersliwer di langit siang itu. Terlalu kering. Orang-orang lewat dengan tergesa, mengenakan penutup kain pada mukanya. Enggan terkena udara yang berpolusi. Aku hendak menuju pada tempat perempuan jahanam itu. Sebuah nama yang selalu terngiang. Mengapa aku seperti menjadi budak bagi perempuan itu. Menjemput dan menghantarkannya tiap pagi dan petang? Sesaat perhatianku hanya tertuju pada sungai yang berliku di sepanjang jalan di pinggiran kotaku itu. Sungai yang mengering..... setidaknya aku sedikit sadar aku mulai mengering.
Monday, July 24, 2006
Starting Point
Alkisah seorang lakilaki yang lemah. Semenjak kecil ia sering didera sakit-sakitan sampai dengan saat ibu kandungnya meninggal, ia tak pernah sakit-sakitan lagi. Semenjak itu ia hidup seperti seorang pengelana. Ia hanya sesekali pulang menjenguk kampung halamannya, sebuah rumah di bawah rumpun pohon petai yang dulu ia saksikan sendiri ibunya sekarat dan meninggal karena gagal ginjal. Ia juga menyaksikan sendiri bagaimana detik-detik terakhir kematian kakeknya di sebuah hari raya di penghujung tahun 2005. Sampai kini ia seperti terbiasa seorang diri mencatat tiap jengkal perhentiannya..... dan entah kepada siapa catatan-catatan itu akan terlontar....
Subscribe to:
Comments (Atom)
