Saya hanya kenal dengan istrinya, karena ia adalah teman seangkatan saya sewaktu kami masih sama-sama aktif kuliah. Istrinya adalah teman yang lumayan dekat dan ia pernah bercerita tentang pacarnya yang jauh dari kota SBY dan sesekali menjenguknya di kota Yog. Istrinya teman yang menyenangkan untuk berbicara, selalu antusias untuk berdebat soal apa saja dan saya tua ia orang yang setia. Saya hanya bertemu dengan laki-laki itu sekali saja, sewaktu temanku yang juga akan calon istrinya akhirnya diwisuda. Saya tidak begitu kaget sewaktu diberitahu kalau mereka akhirnya menikah. Kemudian mereka pindah ke kota SBY dan saya tidak pernah bertemu dengan mereka lagi kecuali kabar-kabar dari mailing list.
Tak berapa lama mereka dikaruniai anak kembar, teman saya menjadi ibu rumah tangga sekaligus dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, begitu juga suaminya. Aku mendapatkan kejutan lagi karena belum genap dua tahun, aku mendapat kabar lagi kalau mereka punya anak lagi, kali ini kembar juga. Aku jadi mereka-reka bagaimana perubahan temanku itu setelah menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus 4 orang anak.
Saat itu kalau saya membayangkan sebuah keluarga muda yang bahagia, saya membayangkan mereka.
Saya percaya akan takdir, apalagi saya tak punya ibu lagi semenjak SMP. Saya masih ingat bagaimana kami berjuang sekuat tenaga dengan mengerahkan moril dan materiil guna menyembuhkan sakit ibu. Bahkan aku sendiri pernah menjadi seorang yang sangat reigius ketika itu dan saya berdoa dengan optimis di sebuah segelas air putih dan lalu saya menyodorkan segelas air putih itu ke ibu. Saya merasa menyesal dan pernah berfikir lebih baik menjadi bajingan daripada seorang relgius. Akhirnya Ibu saya memang meninggal dengan tenang.
Saya mendapat kabar dari mailing list pertama kali sekitar sepekan lalu kalau akhirnya laki-laki suami teman sekelas saya, seorang suami yang baik yang dikarunia empat orang anak kembar dan seorang istri yang cantik dan pintar itu akhirnya meninggal karena sakit paru-paru. Jantung saya sedikit tersentak, merinding membayangkan wajah teman saya dan suaminya itu untuk terakhir kali. Seandainya saya mampu untuk berangkat ke kota SBY.
Saya membayangkan usia keduanya, teman saya kalau ngak salah masih sangat muda, 27 tahun, sedangkan suaminya tak lebih dari 30 tahun......
Sunday, May 27, 2007
Monday, April 16, 2007
global village
Just wondering if for an example in my kampoong there are internet connection for every people. every person they connect each other, especially in the whole kampoong we connected each other with simple cable connection. It might goes nobody want to go outside. just few people. Every person thet sit in front of the computer, chat each other and might be use teleconference.
Anyway, it just an imagination.... how know? because internet tehnology might goes very cheap.
Anyway, it just an imagination.... how know? because internet tehnology might goes very cheap.
Wednesday, April 11, 2007
Becak, Pauline, Gazi, Zajeck dan Conts
Pauline adalah teman dari perancis dan belum pernah sekaipun di yogya ia naik becak. Ia lebih memilih naik taksi, minta dijemput teman atau jalan kaki daripada naik becak. Saya ingat sekali komentarnya tentang becak.
Becak itu mahal karena pake tenaga manusia katanya.
Saya hanya diam dengan komentar itu karena dalam kepalaku ingat sesuatu bahwa orang perancis itu terkenal pelit.
Lalu Gazi dari bangladesh. Ia sering kuejek sebagai "king of bangla". caranya ngomong bahasa inggris mirip orang india, dengan logat indian england dan kepala yang nyaris bergerak-gerak dan ia waduh suka berdendang lagu-lagu bangla, atau mungkin inda? saya tak pernah tahu. Pada awal-awal kedatangannya ke Indonesia ia sering naik becak karena kepepet. jarak pusat kota dengan tempatnya studi di ISI membuatnya sering naik becak untuk sekedar dari aspal besar yang dilalui bus uar kota dan tempatnya tinggal di sebuah kampung. Tapi itu hanya sementara setelah ia menyadari jalan kaki pada route yang membelah kampung itu menyenangkan karenanya suatu ketika ia pernah berdebat dengan teman banglanya lainnya kalau jarak dari jalan raya menuju tempat tinggalnya hanya 15 menit jalan kaki! dan temannya cukup marah saat sudah berajalan 20 menit mereka blum kunjung sampai juga di tujuan.
Becak!, Zajeck dari polandia paling suka meniru suara dan tingkah tukang becak. Ia memang paling pintar meniru dan bagiku itulah password perkenalan pertamanya denganku. Meniru logat inggris Indoesiaku yang membuatku dipermalukan di tengah-tengah teman yang lain.
"Becak sir"
Mereka seperti pemilik jalanan, kata zajeck. Crazie driver yang tak hirau kalau becaknya punya badan yang cukup gemuk dan berjalan lambat di tengah tengah perempatan yang seakan-akan seperti buta warna lalu lintas merah kuning hija itu.Zajeck menggambarkan juga tukang becak dengan kacamatanya; seorang yang punya tubuh pendek, tidak begitu kurus tidak begitu gemuk, mengenakan topi, sebuah handuk kecil, suka mengantuk dan tidur melingkar di dalam becak sambil menunggu penumpang. Ia pernah cerita juga beberapa kali saat melewati deretan tukang becak itu, satu demi satu tukang becak itu menyembul keluar dari kolong tidrnya sambil mengangkat hanya sebagian kelapanya dan tulunjukknya dan berteriak "BECAK" dan mempertunjukkkan kedua matanya yang bulat seakan-akan mereka siap menservice anda dengan puas.
Kadangkala mereka juga berteriak "looking for batik sir, bakpia sir.... dll.
Becak itu mahal karena pake tenaga manusia katanya.
Saya hanya diam dengan komentar itu karena dalam kepalaku ingat sesuatu bahwa orang perancis itu terkenal pelit.
Lalu Gazi dari bangladesh. Ia sering kuejek sebagai "king of bangla". caranya ngomong bahasa inggris mirip orang india, dengan logat indian england dan kepala yang nyaris bergerak-gerak dan ia waduh suka berdendang lagu-lagu bangla, atau mungkin inda? saya tak pernah tahu. Pada awal-awal kedatangannya ke Indonesia ia sering naik becak karena kepepet. jarak pusat kota dengan tempatnya studi di ISI membuatnya sering naik becak untuk sekedar dari aspal besar yang dilalui bus uar kota dan tempatnya tinggal di sebuah kampung. Tapi itu hanya sementara setelah ia menyadari jalan kaki pada route yang membelah kampung itu menyenangkan karenanya suatu ketika ia pernah berdebat dengan teman banglanya lainnya kalau jarak dari jalan raya menuju tempat tinggalnya hanya 15 menit jalan kaki! dan temannya cukup marah saat sudah berajalan 20 menit mereka blum kunjung sampai juga di tujuan.
Becak!, Zajeck dari polandia paling suka meniru suara dan tingkah tukang becak. Ia memang paling pintar meniru dan bagiku itulah password perkenalan pertamanya denganku. Meniru logat inggris Indoesiaku yang membuatku dipermalukan di tengah-tengah teman yang lain.
"Becak sir"
Mereka seperti pemilik jalanan, kata zajeck. Crazie driver yang tak hirau kalau becaknya punya badan yang cukup gemuk dan berjalan lambat di tengah tengah perempatan yang seakan-akan seperti buta warna lalu lintas merah kuning hija itu.Zajeck menggambarkan juga tukang becak dengan kacamatanya; seorang yang punya tubuh pendek, tidak begitu kurus tidak begitu gemuk, mengenakan topi, sebuah handuk kecil, suka mengantuk dan tidur melingkar di dalam becak sambil menunggu penumpang. Ia pernah cerita juga beberapa kali saat melewati deretan tukang becak itu, satu demi satu tukang becak itu menyembul keluar dari kolong tidrnya sambil mengangkat hanya sebagian kelapanya dan tulunjukknya dan berteriak "BECAK" dan mempertunjukkkan kedua matanya yang bulat seakan-akan mereka siap menservice anda dengan puas.
Kadangkala mereka juga berteriak "looking for batik sir, bakpia sir.... dll.
Thursday, April 05, 2007
one cup of coffee...
Mungkin saya bukan lagi seorang "coffe lover" dan seharusnya dengan sah lari cabut dari keanggotaan groups "coffe lover" di friendster. Mereka bilang:"disini khusus coffe lover yang punya selera coffe setidaknya bisa membedakan mana kopi tubruk dan bagaimana cappucino dari Italli.
Jadi saya seorang coffe addic, sampai-sampai ngak lagi bisa nentuin rasa kopi dari robusta, jember, lampung, bali atau luwak (yang konon biji kopinya keluar dari feses luak ...wueeekkkk...nak). Saya hanya bisa membedakan dengan tiga tingkatan kopi menurut saya, mana kopi mantap, kopi biasa dan kopi palsu. Kopi mantap untuk kopi yang benar benar kental (kalau takaran saya sekitar 3 sendok kopi tubruk atau satu sendok nescafee) dan sedikit gula. Getirnya akan terasa dari mulut sampai di tenggorokan dan benar-benar menstimulasi mata untuk melek. Sedangkan kopi-kopi sachet semacam nescafe, coffemix, indocaffe dlll itu bagi saya hanya tergolong kopi biasa. Kopi biasa seperti ini, ah setidaknya hanya untuk teman ngobrol saja menyuguh tamu atau teman. lebih praktis.
Kalau kopi ini, agak menyakitkan, saya labelkan pada kopi-kopi yang dibuat oleh bukan orang yang suka minum kopi. Kebanyakan kopinya encer dan teralu manis sehingga rasanya seperti manisan kopi saja.
One cup of coffe... kata bob marley....
Jadi saya seorang coffe addic, sampai-sampai ngak lagi bisa nentuin rasa kopi dari robusta, jember, lampung, bali atau luwak (yang konon biji kopinya keluar dari feses luak ...wueeekkkk...nak). Saya hanya bisa membedakan dengan tiga tingkatan kopi menurut saya, mana kopi mantap, kopi biasa dan kopi palsu. Kopi mantap untuk kopi yang benar benar kental (kalau takaran saya sekitar 3 sendok kopi tubruk atau satu sendok nescafee) dan sedikit gula. Getirnya akan terasa dari mulut sampai di tenggorokan dan benar-benar menstimulasi mata untuk melek. Sedangkan kopi-kopi sachet semacam nescafe, coffemix, indocaffe dlll itu bagi saya hanya tergolong kopi biasa. Kopi biasa seperti ini, ah setidaknya hanya untuk teman ngobrol saja menyuguh tamu atau teman. lebih praktis.
Kalau kopi ini, agak menyakitkan, saya labelkan pada kopi-kopi yang dibuat oleh bukan orang yang suka minum kopi. Kebanyakan kopinya encer dan teralu manis sehingga rasanya seperti manisan kopi saja.
One cup of coffe... kata bob marley....
Tuesday, February 06, 2007
Jake & Anggur 5000
Jake begitu pulas tertidur di kamarku. Semalam tidak hujan dan sisa-sisa air dari genting yang bocor sudah mulai mengering. Tetapi masih terasa lembab dan bau udara membusuk memenuhi ruangan. terpaksa aku menyemprotkan "hazespray" wangi apel. Ia selalu bangun siang hari sekitar pukul 11. Jake tidak pernah ke kampusnya lagi. Ia bilang dia sudah bosan pergi ke kampus karena di kelas selalu ia temukan ruangan yang kosong dan pengantar Indonesia yang masih juga susah ia mengerti.
Semalam kami menjajal anggur jawa merk 5000. Seorang teman membelikannya.
"Indonesian wine Jake, try this...
"Not bad"
Kami mengobrol lagi sampai larut malam dalam suasana yang aneh. Empat orang jawa dan satu orang jerman. Kami bercakap tentang makanan dan tentang negara kami dengan pegawai pegawai pemerintah yang korup.
Temanku, dua orang jawa bekerja
Semalam kami menjajal anggur jawa merk 5000. Seorang teman membelikannya.
"Indonesian wine Jake, try this...
"Not bad"
Kami mengobrol lagi sampai larut malam dalam suasana yang aneh. Empat orang jawa dan satu orang jerman. Kami bercakap tentang makanan dan tentang negara kami dengan pegawai pegawai pemerintah yang korup.
Temanku, dua orang jawa bekerja
Sunday, February 04, 2007
a day without me
Satu lagi tikus mati terlindas roda mobil. Aku melintas dengan cuek saja. Toh hanya seekor tikus, pemandangan biasa. Tubuh tikus itu memburai dengan otak yang muncrat, sketsa antara warna hitam kecoklatan bulu-bulu tikus, darah dan cairan otak. Hiiii....
Sisa Gerimis selama tiga hari mulai menggenangi aspal dan trotoir. Cahaya lampu berkilauan dan rembulan yang bulat penuh dibalik gumpalan-gumpalan awan. Sunggung suasana yang menakjubkan. Aku menggigil karena aku agak demam influensa. Berkali-kali gigiku gemerutuk, seperti melebihi gemuruh kereta yang lewat di depanku. aku berhenti sejenak memberi tempat pada kereta yang lewat itu.... permisi....
dan malam merabat lagi.... aku merambat lagi, melintasi aspal dan satu demi satu tikus yang mati.....
Sisa Gerimis selama tiga hari mulai menggenangi aspal dan trotoir. Cahaya lampu berkilauan dan rembulan yang bulat penuh dibalik gumpalan-gumpalan awan. Sunggung suasana yang menakjubkan. Aku menggigil karena aku agak demam influensa. Berkali-kali gigiku gemerutuk, seperti melebihi gemuruh kereta yang lewat di depanku. aku berhenti sejenak memberi tempat pada kereta yang lewat itu.... permisi....
dan malam merabat lagi.... aku merambat lagi, melintasi aspal dan satu demi satu tikus yang mati.....
Friday, February 02, 2007
Banjir dan ATM
Jumát sore kami pergi untuk membayar tagihan Internet. Temanku harus mengambil uang dulu dari ATM karena tagihan Internet yang membengkak, 1,5 Juta.. wow. Soal tagihan yang membengkak ini temanku yang bule dari perancis selalu bilang... Ïnternet di Indoesia preaty Expensive yaaa". Saya hanya diam. tak bisa membela diri.... paling paling bilang.... ÿaa. yaa.,..yaa... setidaknya karena bukan aku yang membayar.
Dengan motor bututku BMW (Bebek Merah warnanya), serasa sulit di tengah hujan. Tetapi untuk sebuah keperluan mendesak, kami harus pergi ke ATM. Naluriku langsung meluncur di Pawirotaman. Tempat yang paling dekat dengan tempat kami yang disana tersedia setidaknya ada 5 ATM dari bank2 yang berbeda. Tempat itu memang terkenal tempat para turis dan bule-bule dari berbagai negeri. Setelah mencoba satu demi satu tak ada satupun ATM yang berhasil. Kami curgia mungkin kartu Master card temanku rusak. Tetapi Saya juga melihat beberapa bule sempat kebingungan keluar masuk dari satu ATM ke ATM yang lain jaraknya berdekatan. Saya tak ingin bertanya pada dia mengapa dia kebingungan seperti itu karena saya pikir dia akan bertanya terlebih dahulu. Salah satu bule pergi menuju money changer yang letaknya dekat juga dengan tempat ATM ATM itu. Wajahnya nampak sangat letih dan kebingungan. Mungkin dia kehabisan duit, pikirku.
Kami baru tahu kalau seluruh bank dan ATM di yogya offline karena Banjir di Jakarta. Seseorang teman memberi tahu kami dan membenarkan bahwa pagi hari dia mencoba mengirim sejumlah uang ke Bank, t etapi Bank bilang uang sementara hanya bisa dicatat dengan pembukuan manual.
Temanku yang bule perancis berujar berkali-kali :"Strange in Indonesia, Ya.... strange....."
Tetapi oleh karena alasan ATM yang offline itu, kami juga jadi punya alasan juga untuk menunda pembayaran tagihan internet....
Dan si bule dari perancis itupun tersenyum-senyum...
Ÿaa.... jadi we pay after ATM available yaa...."I hope...(dia terkekeh-kekeh)
Dengan motor bututku BMW (Bebek Merah warnanya), serasa sulit di tengah hujan. Tetapi untuk sebuah keperluan mendesak, kami harus pergi ke ATM. Naluriku langsung meluncur di Pawirotaman. Tempat yang paling dekat dengan tempat kami yang disana tersedia setidaknya ada 5 ATM dari bank2 yang berbeda. Tempat itu memang terkenal tempat para turis dan bule-bule dari berbagai negeri. Setelah mencoba satu demi satu tak ada satupun ATM yang berhasil. Kami curgia mungkin kartu Master card temanku rusak. Tetapi Saya juga melihat beberapa bule sempat kebingungan keluar masuk dari satu ATM ke ATM yang lain jaraknya berdekatan. Saya tak ingin bertanya pada dia mengapa dia kebingungan seperti itu karena saya pikir dia akan bertanya terlebih dahulu. Salah satu bule pergi menuju money changer yang letaknya dekat juga dengan tempat ATM ATM itu. Wajahnya nampak sangat letih dan kebingungan. Mungkin dia kehabisan duit, pikirku.
Kami baru tahu kalau seluruh bank dan ATM di yogya offline karena Banjir di Jakarta. Seseorang teman memberi tahu kami dan membenarkan bahwa pagi hari dia mencoba mengirim sejumlah uang ke Bank, t etapi Bank bilang uang sementara hanya bisa dicatat dengan pembukuan manual.
Temanku yang bule perancis berujar berkali-kali :"Strange in Indonesia, Ya.... strange....."
Tetapi oleh karena alasan ATM yang offline itu, kami juga jadi punya alasan juga untuk menunda pembayaran tagihan internet....
Dan si bule dari perancis itupun tersenyum-senyum...
Ÿaa.... jadi we pay after ATM available yaa...."I hope...(dia terkekeh-kekeh)
Sunday, January 21, 2007
Morning café & I hate monday
Seorang anak kecil menangis terus menerus. Aku bangun dan terjaga. Ibunya membangunkan dengan berbagai cara sedang bapaknya bilang :"kamu kalau nangis jelek!" Tetapi anak kecil itu tak segera berhenti menangis.
Aku bangkit, membuka mataku dan mengkorek-korek ruang kesadaranku. Aku telah berada di ruangan lain. Pagi yang begitu dingin.
Aku bangkit, membuka mataku dan mengkorek-korek ruang kesadaranku. Aku telah berada di ruangan lain. Pagi yang begitu dingin.
Subscribe to:
Comments (Atom)
